Dari Nolan Pertama ke HJC & Airoh, Kisah Sukses Juragan Helm Merintis Bisnis

JADWALBALAP,COM, JAKARTA – Juragan Helm Jakarta adalah usaha yang tumbuh dari ketidaksengajaan dan kecintaan pribadi terhadap dunia helm. Agus Hermawan, sang pemilik, lahir tahun 1974 dan pernah mengenyam pendidikan menengah di Australia sebelum melanjutkan kuliah di jurusan Teknik Komputer di BINUS pada 1992.
Meski awalnya berkarier sebagai desainer grafis, hidupnya justru berbelok arah saat diminta membantu pameran helm oleh Pak Hendri, bos KYT, pada tahun 2007.
“Awalnya saya cuma bantu desain materi iklan dan katalog untuk pameran. Belum pernah terpikir dagang helm. Waktu itu pekerjaan utama saya masih desain grafis,” ujar Agus Hermawan saat ditemui outlet di Jl Panjang Jakarta(18/7).
Saat pameran di Mall Daan Mogot, teman-temannya dari komunitas CBR datang dan berseloroh, “Wah, Agus sekarang udah jadi juragan helm, nih.” Ucapan itulah yang kemudian melekat.
Dari nama awal helmbagustoko.com yang lebih personal, Agus memutuskan membeli domain juraganhelm.com karena merasa nama itu lebih kuat secara brand dan mudah dikenali publik.
Tahun 2008, Agus membuka tempat pertama di Cengkareng, bukan toko sepenuhnya, melainkan gudang penyimpanan stok setelah pameran.
“Sebenarnya itu cuma tempat buat nyimpen barang setelah pameran. Bahkan helm-helm awal sempat dipinjamkan satu truk oleh bos KYT untuk saya jual,” kenangnya. Dalam proses awal itu, Agus tak sendiri. Ia dibantu istri dan mertuanya dalam mengelola barang dan pameran.
Dari yang hanya menjual beberapa merek, kini Juragan Helm menjual lebih dari 15 merek helm impor. Di antaranya yang paling menonjol adalah HJC dari Korea (pabrik di Vietnam) dan Airoh dari Italia. Pada 2017, Juragan Helm resmi menjadi distributor tunggal dan main dealer untuk kedua merek tersebut.
“Untuk Airoh, awalnya saya beli lewat distributor di Bali. Setelah kami bisa jual sampai seribu unit, saya akhirnya dipercaya jadi main dealer-nya. Itu salah satu titik penting buat kami,” tutur Agus.
Keberanian Agus membuahkan hasil besar ketika ia menghadiri sebuah pameran di Jerman. Di sana, ia langsung mendekati pihak HJC dan menawarkan diri sebagai distributor tunggal di Indonesia.
“Saya pikir, kenapa enggak coba langsung saja. Waktu itu belum ada yang pegang eksklusif, dan ternyata mereka merespons positif,” ujarnya.

HJC sendiri semakin populer di kalangan pengendara karena digunakan oleh pembalap MotoGP seperti Fabio Quartararo dan Brad Binder.
“HJC lebih indentik dengan helm pembalap, jadi pengaruhnya cukup kuat di pasar. Secara perusahaan juga lebih besar dibanding Airoh,” kata Agus.
Kini Juragan Helm memiliki tiga cabang di Jakarta dan sekitarnya: Jl. Panjang Raya No. 17A (Jakarta Barat), Jl. MH Thamrin No. 88A (Serpong), dan Jl. Taman Galaxy Raya No. 12AC (Bekasi).
Tak hanya menjual helm, mereka juga menyediakan apparel dan wearpack, menjadikan helm bukan sekadar pelindung kepala, tapi bagian dari gaya hidup.
“Dulu helm dianggap cuma alat pengaman. Tapi sekarang orang beli helm karena style, karena merek, karena tampilannya. Helm sudah jadi bagian dari lifestyle,” jelasnya.
Helm pertama Agus adalah merek Nolan seharga Rp350.000 saat itu setara dengan satu kali gaji. Ia masih ingat betul bagaimana helm tersebut memicu ketertarikan yang kemudian menular ke tongkrongan, membentuk komunitas, dan bahkan membuatnya “meracuni” teman-temannya untuk mulai menggunakan helm-helm impor seperti Nolan, Shoei, hingga AGV. Dari situ, ia juga ikut membentuk klub CBR yang menjadi jaringan awal penguat Juragan Helm.
Kini, lebih dari satu dekade berjalan, Juragan Helm tak hanya menjadi toko, tapi juga simbol perubahan cara pandang terhadap helm di Indonesia.
Dari sebuah side job dan gudang kecil, bisnis ini menjadi salah satu pionir helm impor yang merubah helm menjadi simbol identitas dan gaya hidup para rider tanah air.fey

