Melihat Evolusi Kultur Honda di GIIAS 2026

JADWALBALAP.COM, TANGERANG – “Culture. Evolved.” atau “Kultur yang Berevolusi” menjadi cara Honda menggambarkan bagaimana kultur yang telah membentuk karakter merek selama puluhan tahun terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Bagi Honda, evolusi bukan berarti meninggalkan identitas lama, melainkan membawa nilai-nilai yang sudah menjadi bagian dari DNA-nya seperti engineering, performa, dan Joy of Driving—ke dalam era mobilitas baru.
Gagasan inilah yang kemudian diterjemahkan PT Honda Prospect Motor melalui kehadirannya di GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
Di tengah deretan mobil baru yang memenuhi hall GIIAS 2026, Honda datang dengan sebuah pesan yang sebenarnya sederhana: memasuki masa depan tidak harus berarti melupakan masa lalu.
Pesan itu terasa kuat lewat tema “Culture. Evolved.” yang diusung PT Honda Prospect Motor pada GIIAS 2026 di ICE BSD City, Tangerang, 30 Juli–9 Agustus 2026.
Alih-alih sekadar memamerkan produk baru, Honda mencoba membawa pengunjung menelusuri perjalanan sebuah kultur otomotif yang telah dibangun selama puluhan tahun dari mobil sport mungil bermesin bensin hingga mobil listrik yang justru berusaha mempertahankan sensasi berkendara.
Di booth Honda, perubahan bahkan terasa sebelum berbicara mengenai mobil. Logo H baru menjadi penanda evolusi identitas Honda menuju babak berikutnya.
Namun, atmosfer yang dibangun justru tidak terasa terlalu futuristis atau dingin. Area pamer dibuat lebih terbuka dan hangat, dengan inspirasi dari budaya car meet-up. Mobil-mobil tidak hanya ditempatkan sebagai objek untuk dilihat, tetapi dikelilingi ruang interaksi dan komunitas.
Pendekatan tersebut seolah ingin mengingatkan bahwa kultur otomotif tidak pernah hanya dibangun oleh kendaraan. Ada manusia, komunitas, cerita, dan pengalaman yang membuat sebuah mobil memiliki arti lebih dari sekadar alat transportasi.
Bagi Honda, perubahan tersebut memang tidak dimaksudkan untuk memutus hubungan dengan karakter masa lalu.
“Bagi Honda, evolusi bukan berarti meninggalkan jati diri. Teknologi akan terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman, namun setiap inovasi yang kami hadirkan harus tetap membawa karakter yang membuat setiap mobil Honda terasa menyenangkan untuk dikendarai,” ujar Masanao Kataoka, Presiden Direktur PT Honda Prospect Motor.
Pernyataan Kataoka menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai kendaraan yang ditampilkan Honda di GIIAS 2026. Evolusi itu terlihat dari cara Honda menempatkan berbagai generasi kendaraan dalam satu panggung.
Ada Honda S500, mobil penumpang pertama Honda yang diproduksi pada 1963. Mobil sport dua penumpang tersebut mengusung mesin 531 cc empat silinder DOHC dan transmisi manual empat percepatan. Bobotnya hanya sekitar 725 kilogram, dengan tenaga 44 hp pada 8.000 rpm.
Lebih dari enam dekade kemudian, filosofi tentang mobil yang ringan, kompak, dan menyenangkan dikendarai mendapatkan bentuk yang sama sekali berbeda.
Honda City Turbo, misalnya, ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan yang menghubungkan masa lalu dengan Honda Super-ONE. Sementara Honda CR-Z Mugen RZ memperlihatkan bagaimana Honda pernah menerjemahkan teknologi hybrid ke dalam mobil yang tetap membawa karakter sporty.

Di sisi lain, jajaran produk masa kini memperlihatkan bagaimana DNA tersebut diterapkan untuk kebutuhan yang semakin beragam. Honda Brio, WR-V, BR-V, STEP WGN Hybrid, CR-V RS Hybrid, HR-V RS Hybrid Mugen Edition Special GIIAS Series 2026, Civic Hybrid dengan teknologi S+ Shift, dan Honda Prelude dengan aksesori Honda Access menjadi representasi Honda hari ini.
Civic Type R dan Honda Brio yang digunakan Honda Racing Indonesia bahkan membawa cerita tersebut keluar dari ruang pamer. Keduanya menjadi pengingat bahwa bagi Honda, kultur performa bukan sekadar bahasa pemasaran. Ada arena balap tempat karakter tersebut diuji dalam kondisi yang jauh lebih ekstrem.
Namun, pusat perhatian Honda di GIIAS 2026 tetap mengarah pada sebuah mobil kecil yang membawa pertanyaan besar: bisakah sebuah mobil listrik tetap terasa seperti Honda?
Jawabannya coba diberikan melalui Super-ONE.
Mobil listrik kompak ini menjadi langkah awal Honda memperkenalkan arah elektrifikasinya di Indonesia. Menariknya, Honda tidak mengambil pendekatan dengan menghilangkan sebanyak mungkin unsur yang selama ini diasosiasikan dengan kesenangan berkendara.
Justru sebaliknya, sejumlah teknologi di Super-ONE dirancang untuk membuat pengalaman mengemudi mobil listrik terasa lebih emosional.
Secara global, Honda menjelaskan bahwa Super-ONE dikembangkan dengan memanfaatkan platform ringan yang digunakan pada keluarga N Series. Posisi roda yang dibuat lebih lebar turut mendukung karakter berkendara yang sporty dan stabil.
Ada pula BOOST Mode yang dikembangkan khusus untuk model ini. Dalam mode normal, tenaga maksimum berada di 47 kW, tetapi BOOST Mode dapat meningkatkannya menjadi 70 kW.
Pada saat yang sama, sistem tersebut terhubung dengan simulasi transmisi tujuh percepatan dan Active Sound Control. Pengemudi bahkan dapat melakukan perpindahan gigi menggunakan paddle shifter ketika BOOST Mode aktif.
Di sinilah pendekatan Honda terhadap mobil listrik menjadi menarik.
Mobil listrik secara teknis tidak membutuhkan transmisi multi-percepatan seperti mobil bermesin konvensional. Ia juga tidak membutuhkan suara mesin untuk bergerak.
Tetapi Honda justru menciptakan simulasi perpindahan gigi dan suara virtual untuk menghadirkan kembali sensasi yang selama ini menjadi bagian dari pengalaman mengemudi.

Bagi sebagian orang, pendekatan semacam ini mungkin terdengar seperti nostalgia. Tetapi bagi Honda, ini adalah upaya menerjemahkan “Joy of Driving” ke dalam bahasa teknologi yang berbeda.
“Honda Super-ONE kami hadirkan untuk konsumen yang menginginkan kendaraan listrik tanpa kehilangan karakter berkendara khas Honda,” kata Yusak Billy, Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor.
Menurut dia, kehadiran Super-ONE menjadi langkah awal untuk memperkenalkan arah Honda Electric di Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa teknologi boleh berevolusi, tetapi engineering dan Joy of Driving tetap menjadi DNA setiap Honda.
Nama Super-ONE sendiri memiliki makna yang cukup jelas. Honda menjelaskan bahwa nama tersebut menggambarkan ambisi untuk menciptakan kendaraan yang melampaui batas konvensional mobil listrik maupun mobil mini, sekaligus menawarkan nilai yang hanya dapat diberikan oleh Honda.
Karena itu, Super-ONE tidak diposisikan hanya sebagai kendaraan listrik baru. Ia menjadi semacam eksperimen mengenai bagaimana karakter sebuah merek dapat dipertahankan ketika sumber tenaganya berubah.
Dan respons awal pasar Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan tersebut cukup menarik perhatian.
Saat pertama diperkenalkan, Honda menyiapkan Super-ONE secara terbatas hanya 100 unit untuk pasar Indonesia sepanjang 2026. Harga resminya kemudian diumumkan pada 5 Agustus sebesar Rp438 juta OTR Jakarta.
Hanya dalam satu hari sejak pemesanan dibuka, jumlah booking bahkan telah mencapai 132 unit, melampaui alokasi awal 100 unit untuk tahun ini.
Angka tersebut menarik bukan hanya karena menunjukkan respons pasar terhadap sebuah mobil listrik baru. Ia juga menjadi gambaran bahwa konsumen Indonesia mulai memiliki ruang untuk produk elektrifikasi yang tidak semata-mata menjual efisiensi, tetapi juga karakter.
Pada akhirnya, itulah inti yang ingin disampaikan Honda melalui “Culture. Evolved.”
Perubahan teknologi memang tidak terhindarkan. Mesin pembakaran internal akan berdampingan dengan hybrid dan kendaraan listrik. Cara manusia menggunakan mobil juga berubah seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan mobilitas.

Tetapi di tengah perubahan tersebut, Honda tampaknya tidak ingin kehilangan satu hal yang sejak awal menjadi bagian penting dari identitasnya: hubungan antara manusia dan mesin.
Dari S500 yang hanya memiliki mesin 531 cc, dari City Turbo yang membangun citra performa, dari CR-Z yang mengawinkan hybrid dengan karakter sporty, sampai Super-ONE yang bahkan harus “menciptakan” kembali sensasi perpindahan gigi, benang merahnya tetap sama.
Teknologi boleh berubah. Cara tenaga dihasilkan boleh berubah. Bahkan suara yang keluar dari mobil pun bisa menjadi suara virtual. Namun bagi Honda, sebuah mobil tetap harus memberikan alasan kepada pengemudinya untuk tersenyum ketika berada di balik kemudi.
Mungkin itulah makna paling sederhana dari “Culture. Evolved.” Honda tidak sedang mengatakan bahwa masa depan akan sama seperti masa lalu.
Honda justru menunjukkan bahwa masa depan akan sangat berbeda dan tantangannya adalah memastikan karakter yang membuat sebuah Honda terasa seperti Honda tetap ikut menempuh perjalanan tersebut. Sebab ketika teknologi berubah semakin cepat, sebuah karakter justru menjadi semakin penting.fey

