Mau Beli Mobil Listrik tapi Takut Baterai Soak? Sewa Baterai Polytron G3 & G3+ Solusinya

JADWALBALAP.COM, JAKARTA – Bagi orang yang baru pertama kali ingin membeli mobil listrik, persoalan baterai sering menjadi salah satu pertimbangan terbesar.
Berapa lama baterai bertahan? Bagaimana jika kapasitasnya menurun? Dan berapa biaya yang harus disiapkan jika suatu saat baterai perlu diganti?
Polytron mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui Battery-as-a-Service (BaaS) pada G3 dan G3+. Skema ini membuat konsumen tidak perlu membeli baterai saat membeli mobil. Baterai disewa melalui layanan Polytron dengan biaya bulanan berdasarkan paket yang dipilih.
Konsep tersebut menjadi bagian dari langkah Polytron memasuki industri kendaraan listrik. Setelah sebelumnya mengembangkan motor listrik, perusahaan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai produsen elektronik ini mulai membawa strategi serupa ke kendaraan roda empat.
Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, menyebut aksesibilitas sebagai salah satu kunci pengembangan kendaraan listrik Polytron. “Dapat diakses secara lebih luas adalah kata kuncinya.”
Bagi Polytron, aksesibilitas tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga bagaimana teknologi kendaraan listrik dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat.
BaaS Membuat Harga Awal Lebih Ringan
Pada skema BaaS, konsumen membeli mobil tanpa baterai. Untuk G3, harga BaaS berada di kisaran Rp329,5 juta OTR Jakarta, sedangkan G3+ sekitar Rp373,5 juta.
Setelah kendaraan dimiliki, konsumen membayar biaya sewa baterai secara berkala. Paket Economy dikenakan Rp800 per kilometer dengan minimum 1.500 km per bulan, atau minimum sekitar Rp1,2 juta per bulan. Ada pula paket Unlimited dengan biaya Rp1,4 juta per bulan.

Artinya, harga pembelian mobil bukan satu-satunya biaya yang perlu dihitung. Konsumen harus memasukkan biaya BaaS ke dalam perhitungan biaya kepemilikan selama menggunakan kendaraan.
Di sisi lain, skema ini menawarkan perlindungan terhadap degradasi baterai. Berdasarkan ketentuan layanan Polytron, baterai dapat diganti apabila kapasitasnya turun di bawah 85 persen, selama memenuhi ketentuan program. Jaminan baterai tersebut berlaku selama pelanggan masih berlangganan BaaS.
Inilah salah satu perbedaan pendekatan BaaS dibandingkan membeli mobil listrik sekaligus dengan baterainya. Risiko terkait baterai dialihkan ke dalam model layanan, sementara konsumen membayar biaya penggunaan baterai secara berkala.
G3 dan G3+ Diproduksi Lokal
Langkah Polytron di kendaraan listrik juga tidak berhenti pada pemasaran. G3 dan G3+ diproduksi secara massal di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM), Purwakarta, Jawa Barat, menggunakan sistem semi-knocked down (SKD).
Polytron menyebut fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi maksimum hingga 30.000 unit per tahun. Proses produksinya juga dilengkapi sejumlah pengujian kendaraan dan keselamatan, termasuk pemantauan suhu baterai serta Electric Safety Test pada beberapa tahapan produksi.
Untuk calon pembeli EV pertama, hal ini menjadi bagian penting dari cerita G3 dan G3+. Polytron tidak sekadar membawa produk baru, tetapi juga membangun basis manufaktur dan layanan untuk mendukung kendaraan listriknya di Indonesia.

Dari sisi spesifikasi, G3 dan G3+ menggunakan baterai LFP 51,916 kWh, motor listrik 150 kW dengan torsi 320 Nm, serta jarak tempuh hingga sekitar 402 km berdasarkan siklus CLTC.
Keduanya juga dibekali sejumlah fitur seperti ADAS, panoramic sunroof, electric tailgate, wireless charging, Apple CarPlay, Android Auto dan V2L.
G3+ ditempatkan sebagai varian yang lebih premium, sementara perbedaan utama dengan G3 lebih banyak berada pada fitur dan kelengkapan dibandingkan kemampuan dasar penggeraknya.
Bagi konsumen yang tidak ingin menggunakan BaaS, tersedia pula skema Buy to Own. Pada pilihan ini, baterai menjadi bagian dari kendaraan. G3+ Buy to Own dipasarkan sekitar Rp505 juta OTR Jakarta, dengan garansi baterai hingga 8 tahun atau 180.000 km.
Polytron Fest dan Arah Baru Kendaraan Listrik
Arah tersebut kembali terlihat dalam Polytron Fest 51 yang digelar 19–20 September 2026 di Parkir Selatan GBK, Jakarta. Dalam perayaan ulang tahun ke-51 tersebut, Polytron tidak hanya membawa produk elektronik, tetapi juga menampilkan lini kendaraan listrik roda dua dan roda empat.
Pengunjung dapat mengikuti aktivitas test drive dan test ride, sementara Polytron juga menawarkan sejumlah program pembelian kendaraan listrik.
Untuk mobil listrik, salah satu program yang kembali menjadi perhatian adalah jaminan nilai jual kembali hingga 70 persen dalam periode tiga tahun, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Program tersebut melengkapi pendekatan Polytron dalam menjawab beberapa kekhawatiran calon pengguna EV: harga awal, baterai, serta nilai kendaraan setelah beberapa tahun digunakan.

Namun, jaminan 70 persen tersebut bukan berarti setiap kendaraan otomatis akan dibeli kembali dengan harga 70 persen. Program memiliki persyaratan tertentu, termasuk kondisi kendaraan, riwayat perawatan, asuransi dan ketentuan BaaS bagi pengguna yang memilih skema sewa baterai.
Pada akhirnya, G3 dan G3+ menawarkan model kepemilikan yang berbeda dari mobil listrik konvensional. Konsumen dapat memilih membeli kendaraan sekaligus baterainya melalui Buy to Own, atau menekan biaya awal dengan BaaS dan membayar penggunaan baterai secara berkala.
Bagi calon pembeli mobil listrik pertama, perbedaan tersebut penting dipahami sejak awal. Bukan hanya soal berapa harga mobil saat dibeli, tetapi juga bagaimana biaya baterai, garansi, perawatan dan nilai jual kembali dihitung selama kendaraan digunakan.
Di sinilah strategi Polytron menjadi menarik: menjadikan mobil listrik bukan sekadar produk baru, tetapi sebuah layanan kepemilikan yang mencoba membuat teknologi tersebut lebih mudah diakses konsumen Indonesia.fey

