DOCI ke Sukabumi, Pesantren dari Kandang Ayam Ini Akhirnya Punya Harapan Baru

JADWALBALAP.COM, SUKABUMI – Suara mesin Ducati biasanya identik dengan kecepatan dan kemewahan, tetapi di pelosok Sukabumi(5/4), kedatangannya justru membawa sesuatu yang tak terduga, sebuah harapan baru bagi pesantren yang dulunya hanyalah kandang ayam.
Perjalanan sejauh 80 kilometer yang ditempuh rombongan Ducati Official Club Indonesia bukan sekadar touring biasa karena mereka harus melewati jalan rusak, tanjakan curam, hingga akses terbatas demi mencapai lokasi yang jarang tersentuh perhatian, tempat puluhan santri belajar setiap hari dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Bangunan yang digunakan untuk belajar merupakan kandang ayam yang dialihfungsikan secara sederhana, dengan fasilitas terbatas dan kondisi yang serba kekurangan, namun hal itu tidak menghentikan semangat para santri untuk menimba ilmu dan mengejar masa depan yang lebih baik.
Pesantren ini dipimpin oleh Jajang Badru Jaman yang memiliki tekad kuat untuk memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan mulai dari minimnya tenaga pengajar hingga operasional mandiri yang berjalan seadanya.
Di tengah kondisi tersebut, harapan mulai datang ketika DOCI memutuskan untuk turun langsung memberikan bantuan nyata dengan membangun ruang kelas baru, selasar, serta fasilitas sanitasi yang lebih layak agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lebih nyaman dan manusiawi.
Tidak hanya pembangunan fisik, bantuan sosial juga diberikan dalam bentuk hampir satu ton sembako dan makanan instan untuk masyarakat sekitar, yang semuanya merupakan hasil donasi ratusan anggota DOCI yang dikumpulkan selama Ramadan 2026 sebagai wujud kepedulian nyata terhadap sesama.
Presiden DOCI, Stephanus Wibowo, bahkan hadir langsung ke lokasi untuk melakukan peletakan batu pertama, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar simbolis melainkan komitmen yang benar-benar diwujudkan di lapangan.
Di tengah keterbatasan akses dan kondisi lingkungan yang menantang, kehadiran komunitas motor ini menjadi bukti bahwa kepedulian bisa datang dari mana saja, bahkan dari mereka yang selama ini identik dengan dunia otomotif dan kecepatan.
Kini suasana di pesantren itu mulai berubah, suara pembangunan menggantikan kesunyian keterbatasan dan membawa semangat baru bagi para santri yang sebelumnya hanya belajar di ruang seadanya.
Dari tempat yang dulu hanyalah kandang ayam, perlahan tumbuh ruang belajar yang lebih layak dan penuh harapan, membuktikan bahwa kepedulian kecil dapat membuka jalan bagi perubahan besar.
Kisah ini bukan sekadar tentang komunitas motor, melainkan tentang bagaimana solidaritas mampu menghadirkan masa depan yang lebih baik, dan bukan tidak mungkin suatu hari nanti dari pesantren sederhana ini akan lahir generasi yang mampu melangkah jauh melampaui batas desa mereka.fey

