Mengapa Indonesia Lebih Cocok Pakai Lepas L8 PHEV ? Ini Jawabannya

JADWALBALAP.COM, TANGERANG – Peralihan dari mobil berbahan bakar bensin menuju kendaraan listrik di Indonesia bukan sekadar persoalan mengganti mesin. Ini adalah perubahan kebiasaan.
Selama puluhan tahun, masyarakat terbiasa dengan kendaraan yang dapat diisi bensin dalam hitungan menit, digunakan menempuh perjalanan jauh, dan tidak membutuhkan perencanaan khusus mengenai sumber energi.
Karena itu, meski kendaraan listrik menawarkan masa depan yang lebih efisien, tidak semua orang siap berpindah ke EV secara langsung.
Di sinilah plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) menjadi relevan. PHEV menawarkan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat dalam masa transisi: pengalaman berkendara listrik tanpa harus kehilangan fleksibilitas mesin bensin.
LEPAS L8 PHEV menjadi salah satu contoh bagaimana konsep tersebut diterjemahkan ke dalam sebuah kendaraan yang dapat digunakan sebagai transportasi utama sehari-hari. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Bahkan LEPAS sendiri melihat PHEV masih memiliki ruang di Indonesia.
Vice Country Director LEPAS Indonesia, Temmy Wiradjaja, sebelumnya mengatakan PHEV tetap dipertimbangkan karena ada konsumen yang masih memiliki range anxiety, atau kekhawatiran mengenai jarak tempuh kendaraan listrik.
Menurutnya, tren PHEV di Indonesia memang meningkat, meski pertumbuhannya belum secepat BEV. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik tidak selalu harus dilakukan dalam satu lompatan. Ada kelompok konsumen yang ingin menikmati teknologi listrik, tetapi masih membutuhkan rasa aman dari keberadaan mesin bensin.
LEPAS L8 PHEV berada tepat di ruang tersebut
Dengan kemampuan berkendara menggunakan listrik lebih dari 100 kilometer dan total jarak tempuh lebih dari 1.300 kilometer melalui kombinasi motor listrik dan mesin bensin, L8 menawarkan dua karakter mobilitas sekaligus.
Untuk aktivitas harian, pengguna dapat memanfaatkan tenaga listrik. Untuk perjalanan jauh, mesin bensin tetap memberikan fleksibilitas. LEPAS sendiri mencatat konsumsi bahan bakar L8 PHEV mencapai 1,49 liter per 100 kilometer dalam kondisi pengujian yang ditentukan.
Artinya, pengguna tidak harus memilih antara bensin atau listrik. Mereka dapat mulai menggunakan listrik sebanyak mungkin untuk kebutuhan sehari-hari, sambil tetap memiliki mesin bensin sebagai jaminan ketika harus bepergian lebih jauh.
Inilah yang membuat PHEV menarik sebagai kendaraan transisi. Masyarakat dapat mulai mengubah kebiasaan tanpa harus mengubah seluruh pola mobilitasnya sekaligus.
Pagi hari, L8 dapat digunakan untuk perjalanan rumah-kantor. Mengantar anak ke sekolah, berbelanja, menuju pusat aktivitas, lalu kembali ke rumah dapat memanfaatkan pengalaman berkendara listrik.
Mobil menjadi lebih senyap dan responsif, sementara pengisian daya dapat dilakukan ketika kendaraan berada di rumah. Tetapi ketika akhir pekan tiba dan perjalanan berubah menjadi antarkota, kebutuhan kendaraan pun berubah. Di titik inilah keberadaan mesin bensin menjadi penting.
Pengguna tidak harus selalu memikirkan lokasi charging sebagai faktor utama perjalanan. Mobil tetap dapat digunakan seperti kendaraan konvensional ketika jarak perjalanan menjadi lebih panjang.

Kebutuhan seperti ini sangat relevan dengan karakter mobilitas masyarakat Indonesia. Mobil bukan hanya digunakan untuk perjalanan dalam kota, tetapi juga untuk mudik, perjalanan keluarga, wisata, perjalanan antarkota, hingga menuju daerah yang infrastruktur pengisian listriknya belum sepadat pusat kota.
Karena itu, persoalan utama dalam transisi EV bukan semata-mata apakah masyarakat menginginkan kendaraan listrik. Banyak yang menginginkannya. Persoalannya adalah apakah mereka sudah cukup percaya diri untuk sepenuhnya bergantung pada kendaraan listrik
PHEV memberikan jawaban atas persoalan tersebut
Ia menjadi semacam jembatan antara dua dunia: dunia kendaraan berbahan bakar bensin yang sudah sangat familiar dan dunia mobilitas listrik yang sedang berkembang.
Dalam konteks itu, LEPAS L8 PHEV tidak harus dipandang sebagai kendaraan yang “setengah bensin, setengah listrik”. Justru sebaliknya, ia memberikan kesempatan bagi konsumen untuk menjadikan listrik sebagai bagian dari mobilitas utama tanpa harus kehilangan fleksibilitas bensin.
Harga juga menjadi bagian penting dari persamaan tersebut. Setelah diperkenalkan di Indonesia pada 2025, LEPAS L8 PHEV kini resmi dipasarkan dengan harga Rp589 juta on the road (OTR) Jakarta. Temmy Wiradjaja mengatakan harga tersebut dipertahankan setelah sebelumnya diperkenalkan sebagai harga indikatif.
Pada harga tersebut, L8 hadir sebagai SUV lima penumpang dengan kombinasi mesin bensin 1.5 TGDI, motor listrik, dan Dedicated Hybrid Transmission. Kombinasi tersebut menghasilkan tenaga gabungan hingga 315 hp dan torsi maksimum 365 Nm.
Namun, daya tarik L8 tidak berhenti pada sistem penggeraknya
Filosofi LEPAS yang terinspirasi dari karakter leopard diterjemahkan melalui empat karakter: Silent Confidence, Precision Control, Explosive Power, dan Freedom. Keempatnya sebenarnya memiliki hubungan erat dengan kebutuhan konsumen dalam masa transisi menuju EV.
Silent Confidence menggambarkan pengalaman menggunakan tenaga listrik secara tenang untuk kebutuhan sehari-hari. Precision Control hadir melalui teknologi yang membuat kendaraan lebih intuitif, termasuk Automatic Parking Assist dan Remote Parking Assist.
Explosive Power diterjemahkan melalui kombinasi motor listrik dan mesin bensin yang mampu menghadirkan respons tenaga ketika dibutuhkan.
Sementara Freedom menjadi jawaban atas kebutuhan perjalanan yang lebih jauh melalui kombinasi jarak tempuh listrik dan mesin bensin.
L8 PHEV juga membawa 16 fitur Advanced Driver Assistance Systems (ADAS), kamera 540 derajat, Automatic Parking Assist, Remote Parking Assist, serta berbagai fitur kenyamanan. Untuk kebutuhan di luar kendaraan, tersedia pula Vehicle-to-Load (V2L) hingga 2,2 kW. Semua teknologi tersebut pada akhirnya memiliki satu tujuan: membuat proses peralihan menuju elektrifikasi terasa lebih mudah.
Temmy Wiradjaja sendiri menekankan bahwa bagi LEPAS, kendaraan premium bukan hanya mengenai banyaknya teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut menghasilkan pengalaman berkendara yang lebih nyaman, intuitif, dan menyenangkan.
Kombinasi motor listrik dan mesin bensin pada L8, menurut LEPAS, memberikan fleksibilitas untuk mobilitas sehari-hari sekaligus ketenangan ketika melakukan perjalanan jauh.
Di sinilah relevansi L8 PHEV bagi Indonesia menjadi semakin jelas
PHEV bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah elektrifikasi. Namun, perjalanan menuju EV tidak harus dilakukan secara ekstrem. Ada konsumen yang sudah siap menggunakan EV murni. Mereka memiliki akses charging, pola perjalanan yang terukur, dan tidak memiliki kekhawatiran besar terhadap jarak tempuh.
Tetapi ada pula konsumen yang belum berada di tahap tersebut. Mereka ingin merasakan mobil listrik, tetapi masih ingin memiliki mesin bensin.
Mereka ingin mengurangi penggunaan BBM, tetapi belum ingin mengubah seluruh kebiasaan perjalanan. Mereka ingin teknologi masa depan, tetapi tetap membutuhkan fleksibilitas hari ini.
Untuk kelompok inilah PHEV menjadi masuk akal
LEPAS L8 bahkan dapat dipandang sebagai kendaraan yang memungkinkan proses tersebut berlangsung secara bertahap: dari ICE menuju PHEV, kemudian ketika infrastruktur dan kesiapan konsumen semakin matang, menuju EV murni.
Hari ini pengguna mungkin masih mengandalkan bensin ketika bepergian jauh. Besok, semakin banyak perjalanan dilakukan dengan listrik.
Lama-kelamaan, pengguna mulai terbiasa mengisi daya di rumah, terbiasa dengan karakter motor listrik, dan semakin percaya bahwa kebutuhan hariannya dapat dipenuhi oleh energi listrik.

Ketika saatnya tiba, perpindahan ke EV murni tidak lagi terasa sebagai lompatan besar. Itulah mengapa Indonesia membutuhkan PHEV dalam perjalanan menuju elektrifikasi. Bukan karena masyarakat menolak EV, tetapi justru karena masyarakat sedang belajar untuk menggunakannya.
LEPAS L8 PHEV menawarkan pendekatan yang sederhana: gunakan listrik ketika listrik paling masuk akal, gunakan bensin ketika perjalanan membutuhkan fleksibilitas lebih jauh.
Dengan harga Rp589 juta OTR Jakarta, kemampuan EV lebih dari 100 kilometer, total jarak tempuh lebih dari 1.300 kilometer, serta kombinasi motor listrik dan mesin bensin, L8 PHEV mencoba menjadikan transisi tersebut sebagai pengalaman yang tidak menakutkan.
Pada akhirnya, transisi menuju EV bukan tentang seberapa cepat masyarakat meninggalkan bensin. Ini tentang seberapa percaya diri mereka mengambil langkah pertama menuju listrik.
Dan seperti seekor leopard yang menjadi inspirasi LEPAS, tidak terburu-buru bergerak dengan tenang, presisi ketika melangkah, tetapi mampu melesat ketika dibutuhkan. Peralihan Indonesia menuju era kendaraan listrik mungkin memang tidak perlu dilakukan dalam satu lompatan.
Ia membutuhkan langkah yang tepat dan bagi sebagian besar masyarakat yang masih berada di antara kenyamanan bensin dan masa depan listrik, langkah itu bisa dimulai dari PHEV.fey

