Bengkel

Masih Ragu Pilih Mobil Listrik atau Hybrid? DFSK E5 Plus Bisa Jadi Jawaban

 

Masih Ragu Pilih Mobil Listrik atau Hybrid DFSK E5 Plus Bisa Jadi Jawaban

JADWALBALAP.COM, JAKARTA – Perkembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia semakin menarik perhatian. Pilihan mobil dengan teknologi ramah lingkungan kini semakin beragam, mulai dari Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), hingga Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Namun, di tengah banyaknya pilihan tersebut, sebagian konsumen masih dihadapkan pada satu pertanyaan: lebih baik beralih ke mobil listrik sepenuhnya atau memilih hybrid?

Keraguan tersebut cukup beralasan. Mobil listrik menawarkan pengalaman berkendara yang senyap, responsif, dan tanpa emisi gas buang dari kendaraan saat digunakan.

Namun, kebutuhan pengisian daya, ketersediaan infrastruktur, hingga kebiasaan melakukan perjalanan jarak jauh masih menjadi pertimbangan sebagian calon konsumen.

Di sisi lain, mobil hybrid menawarkan fleksibilitas mesin bensin dan motor listrik. Konsumen bisa mendapatkan efisiensi energi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada fasilitas pengisian daya eksternal. Lantas, bagaimana jika keduanya bisa dikombinasikan dalam satu kendaraan?

Teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menjadi salah satu alternatif yang menarik untuk dipertimbangkan. Teknologi ini menggabungkan motor listrik dan mesin bensin, tetapi memiliki baterai berkapasitas lebih besar yang dapat diisi melalui sumber listrik eksternal.

Ketertarikan terhadap kendaraan elektrifikasi sendiri terlihat dari perkembangan pasar otomotif nasional. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat distribusi kendaraan elektrifikasi mencapai 175.144 unit sepanjang 2025, meningkat dibandingkan 103.228 unit pada 2024.

Angka tersebut mencakup kategori BEV, HEV, dan PHEV. Pangsa gabungan ketiga teknologi tersebut juga meningkat dari 11,9 persen menjadi sekitar 21,8 persen dari total distribusi mobil baru.

Menariknya, kategori PHEV menunjukkan pertumbuhan yang cukup mencolok. Distribusinya meningkat dari 136 unit pada 2024 menjadi 5.270 unit sepanjang 2025.

Meski jumlahnya masih relatif kecil dibandingkan pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan, perkembangan ini memperlihatkan bahwa teknologi plug-in hybrid mulai mendapatkan perhatian konsumen Indonesia.

Memahami Perbedaan EV, Hybrid, dan Plug-in Hybrid

Sebelum menentukan pilihan, penting untuk memahami perbedaan ketiga teknologi tersebut. BEV merupakan kendaraan yang sepenuhnya menggunakan motor listrik dan mengandalkan baterai sebagai sumber energi.

Sementara itu, HEV mengombinasikan mesin bensin dengan motor listrik, tetapi baterainya diisi melalui sistem kendaraan tanpa perlu dicolokkan ke sumber listrik eksternal.

Berbeda dengan keduanya, PHEV memiliki kemampuan mengisi baterai melalui charger eksternal. Dengan kapasitas baterai yang lebih besar, kendaraan dapat menempuh perjalanan menggunakan tenaga listrik dalam jarak tertentu sebelum mesin bensin ikut mengambil peran sesuai kebutuhan sistem.

Masih Ragu Pilih Mobil Listrik atau Hybrid DFSK E5 Plus Bisa Jadi Jawaban

Ichsan Aria Putra, Product Expert PT Sokonindo Automobile, menjelaskan bahwa masih terdapat pemahaman yang perlu diluruskan mengenai teknologi plug-in hybrid.

“Salah satu miskonsepsi yang masih perlu diluruskan adalah anggapan bahwa PHEV sama dengan HEV karena keduanya menggunakan motor listrik dan mesin konvensional. Padahal, kemampuan mengisi baterai melalui sumber listrik eksternal memberikan PHEV kesempatan untuk menempuh perjalanan menggunakan tenaga listrik dalam jarak yang lebih jauh dibandingkan sistem hybrid konvensional pada umumnya,” jelas Ichsan.

Keunggulan Hybrid, Menikmati Sensasi Mobil Listrik dengan Fleksibilitas Mesin Bensin

Salah satu keunggulan teknologi PHEV adalah kemampuannya mengakomodasi kebutuhan berkendara yang berbeda. Pengguna bisa menikmati karakter mobil listrik untuk aktivitas harian, mulai dari perjalanan menuju kantor, mengantar anak sekolah, hingga mobilitas di kawasan perkotaan.

Selama baterai terisi dan jarak perjalanan masih berada dalam kemampuan jangkauan listrik kendaraan, pengguna dapat mengandalkan motor listrik tanpa harus selalu mengaktifkan mesin bensin.

Sebagai gambaran, konsumen dengan rutinitas perjalanan sekitar 30–50 kilometer per hari berpotensi memenuhi kebutuhan mobilitas hariannya menggunakan tenaga listrik. Dengan demikian, penggunaan bahan bakar dapat diminimalkan apabila kendaraan diisi daya secara rutin.

Keunggulan lainnya adalah karakter motor listrik yang mampu memberikan torsi secara instan. Hal ini membuat respons akselerasi terasa lebih spontan, halus, dan minim getaran ketika kendaraan beroperasi dalam mode listrik.

PHEV juga menawarkan fleksibilitas ketika digunakan untuk perjalanan lebih jauh. Pengguna tidak harus sepenuhnya bergantung pada keberadaan SPKLU karena mesin bensin dapat mendukung pengoperasian kendaraan ketika energi baterai berkurang.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu kebiasaan mengisi daya. Meskipun PHEV tetap bisa digunakan tanpa pengisian listrik eksternal, pengisian baterai secara rutin menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi efisiensi dan pengalaman berkendara listrik.

Jika baterai jarang diisi, mesin bensin akan lebih sering digunakan sehingga potensi penghematan energi bisa berkurang.

Pada PHEV modern, perpindahan antara motor listrik dan mesin bensin juga dapat dikelola secara otomatis oleh sistem kendaraan. Pengemudi tidak selalu harus menentukan sendiri kapan kedua sumber tenaga tersebut bekerja.

DFSK E5 Plus, SUV PHEV dengan Jarak Tempuh Listrik hingga 140 Km

Pendekatan teknologi tersebut dapat ditemukan pada DFSK E5 Plus. SUV dengan konfigurasi enam tempat duduk ini mengusung teknologi DE-i Dual-Energy yang mengombinasikan tenaga listrik dan mesin bensin dalam satu sistem plug-in hybrid.

DFSK E5 Plus dibekali baterai berkapasitas 25,3 kWh yang diklaim mampu memberikan jarak tempuh listrik murni hingga 140 kilometer. Sementara itu, jarak tempuh gabungan dengan dukungan mesin bensin diklaim mencapai 1.400 kilometer berdasarkan standar pengujian NEDC.

Kedua angka tersebut memberikan gambaran bagaimana PHEV dapat mengakomodasi kebutuhan perjalanan harian maupun perjalanan jarak jauh. Meski demikian, hasil penggunaan nyata dapat berbeda bergantung pada kondisi jalan, gaya berkendara, muatan kendaraan, penggunaan pendingin udara, dan faktor lainnya.

Masih Ragu Pilih Mobil Listrik atau Hybrid DFSK E5 Plus Bisa Jadi Jawaban

Menariknya, pengemudi DFSK E5 Plus juga diberikan pilihan mode berkendara Force EV, Prefer EV, dan Smart. Force EV memprioritaskan penggunaan tenaga listrik, sedangkan Prefer EV dan Smart mengatur pemanfaatan motor listrik serta mesin bensin berdasarkan strategi pengoperasian masing-masing.

Dengan pilihan tersebut, pengemudi memiliki keleluasaan dalam memanfaatkan karakter tenaga kendaraan sesuai kebutuhan perjalanan. Tidak hanya menawarkan teknologi elektrifikasi, DFSK E5 Plus juga membawa perhatian pada kenyamanan penumpang. Konfigurasi enam tempat duduk dengan captain seat di baris kedua memberikan ruang lebih personal, sementara layar hiburan belakang berukuran 15,6 inci menjadi salah satu fitur pendukung perjalanan bersama keluarga.

Kenyamanan kabin turut dilengkapi ventilated seats pada baris pertama dan kedua. Untuk mendukung aspek keselamatan, kendaraan ini juga dibekali Advanced Driver Assistance Systems (ADAS), yang menghadirkan sejumlah fitur bantuan berkendara.

Harga DFSK E5 Plus di Indonesia

Untuk pasar Indonesia, DFSK E5 Plus dipasarkan dengan harga normal Rp499.000.000 (OTR Jakarta). Sebelumnya, DFSK memberikan harga spesial peluncuran Rp479 juta selama penyelenggaraan GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.

Dengan banderol tersebut, DFSK E5 Plus menawarkan kombinasi teknologi plug-in hybrid, konfigurasi enam penumpang, serta beragam fitur kenyamanan dan bantuan berkendara dalam satu paket SUV elektrifikasi.

Meski demikian, sebelum membeli kendaraan PHEV, konsumen tetap perlu mempertimbangkan akses pengisian daya di rumah atau tempat kerja, pola perjalanan harian, biaya kepemilikan, layanan purnajual, garansi baterai, hingga kenyamanan dan fitur keselamatan.

Bagi mereka yang memiliki akses pengisian daya rutin dan menginginkan pengalaman berkendara listrik untuk aktivitas harian, PHEV bisa menjadi pilihan menarik.

Sementara itu, konsumen yang memiliki akses charging memadai dan ingin sepenuhnya meninggalkan mesin bensin dapat mempertimbangkan BEV.

Adapun HEV tetap relevan bagi pengguna yang menginginkan kombinasi tenaga listrik dan bensin tanpa perlu melakukan pengisian daya eksternal.

Melalui E5 Plus, DFSK mencoba menawarkan alternatif bagi konsumen yang ingin mulai menikmati pengalaman berkendara listrik, tetapi belum sepenuhnya siap meninggalkan fleksibilitas mesin bensin.

Pada akhirnya, memilih EV atau hybrid bukan sekadar mengikuti tren elektrifikasi. Keduanya memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan mobilitas, kebiasaan berkendara, serta kesiapan infrastruktur pendukung.

Jika masih ragu memilih mobil listrik atau hybrid, DFSK E5 Plus bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengenal lebih dekat teknologi PHEV, sebuah pendekatan yang mempertemukan pengalaman berkendara listrik dengan fleksibilitas mesin konvensional.fey