Bengkel

Test Ride Honda CUV e: ke Puncak, Ajaib Baterai 0 % Masih Bisa Nanjak !

Test Ride Honda CUV e ke Puncak, Ajaib Baterai 0 % Masih Bisa Nanjak !
Mampir ke SPKLU Bogor untuk Charge pertama CUV e:

JADWALBALAP.COM, JAKARTA –  Ajaib memang Honda CUV e: ini, indikator baterai tinggal 0 % masih bisa melaju 2-3 km tanpa mogok satupun. Kondisi ini benar-benar terjadi saat kami meminjam Honda CUV e: dari Wahana Honda pada hari Jumat(11/7) dan go to Puncak (12/7) tempatnya di Bukit Senja Café Tugu Utara.

Jarak dari Jakarta (Pasar Minggu) ke Bukit Senja Café berjarak 69 km dan waktu ditempuh 1 jam 50 menit. Asumsi kami CUV e:  mampu menempuh 76 km, kami percaya diri akan mampu sampai kesana.

Start Pagi jam 8 pagi, melewati Depok untuk tikum bersama. Cuv ini ada 3 mode : Econ, Standar dan Sport dan kali ini kami mencoba semuanya untuk bisa merasakan sensasi Honda listrik penggerak side drive ini.

Pada mode Econ sendiri hanya mentok kecepatan 35 km/jam tapi cocok untuk kondisi macet dan hemat daya. Berganti ke mode standar, kita geber bisa tembus 66 km/jam ini cocok kecepatan tengah dan nggak terlalu boros.

Beralih ke mode Sport, ini lebih responsif daripada 2 mode sebelumnya. Tarikan awal jambak dan cocok buat nyelip di antara mobil, kita hanya tembus 75 km/jam saja. Tapi ada yang berbisik di Komunitas Motor Listrik (Kosmik) mampu 90 km/jam.

Karena kita sudah tahu ketiga mode ini, maka main aman saja pakai mode standar. Dalam perjalanan menuju Puncak, kita berhenti di SPKLU Bogor di Jalan Pajajaran untuk melakukan charge yang pertama karena dalam perjalan Jakarta full 100 % berkurang 38 %.

Disini kami dibekali docking baterai, seharusnya bisa swap baterai tapi posisi unit CUV e:  yang kita pinjam belum dilengkapi kunci pop. Fungsinya untuk scan barcode di Mobile Power Pack Exchanger e: (BEX) terdekat.

Test Ride Honda CUV e ke Puncak, Ajaib Baterai 0 % Masih Bisa Nanjak !
Bukan Sulap bukan sihir, CUV e: nol persen masih ngegass.

Maka mau nggak mau pakai docking baterai yang output 58,7 volt dan 6,8 ampere sedangkan CUV e:  ini dilengkapi dual baterai masing-masing berkapasitas 50,26 V – 29,4 Ah. Asumsinya 1 baterai jika full membutuhkan 4 jam untuk selesai.

Maka kita trik agar semua di charge, jadi jika indikator bar di docking 2-3 level langsung di switch ke baterai selanjutnya. Karena menurut Deni Kurniawan-Staff Wahana Honda bahwa indikator akan mendeteksi baterai yang paling low bukan yang full.

Tapi ini benar juga, pas kita charge full 1 baterai dan dimasukkan dalam dek. Nyalakan tombol, indikator malah 4 % (catatan kecil ini CUV e:  tak bisa jalan jika kita copot 1 baterai dan wajib membutuhkan 2 baterai).

Asumsi kami, sistem baterai CUV e:  di rangkai pararel untuk mengejar ampere tinggi 29,4 Ah x 2 = 58,8 Ah. Ini masuk akal dikarenakan side drive sendiri bertenaga 6 kW atau setara 8 Tk pada 3.500 rpm dan torsi 22 Nm pada 2.300 rpm.

gear box honda cuv
Dinamo model side drive yang terhubung gearbox yang masih dilumasi oli gardan SAE 90, lebih smooth tidak nyentak.

Selama 2 jam charge teknik switch berhasil mendapatkan 52 %, cukup untuk melaju lagi ke Puncak. Jam 12 siang kita start kembali dan memilih jalur Summarecon, disebabkan jalan lagi ramai dan tanjakan, Baterai CUV e:  terkuras hingga 20 % dan memaksa kami kembali untuk melakukan charge di SPKLU Cipayung.

Baterai naik kembali 52 % dan gas kembali ke Puncak, tapi mendekati tanjakan tugu utara sebelum Gunung Mas. CUV ini sudah limit 0 %, kekuatiran kami bahwa akan mati mesin jika terus dipaksa untuk tanjakan.

Disinilah keajaiban terjadi, posisi 0 % dan jarak kurang 2,3 km ke arah Bukit Senja Café. CUV e:  masih sanggup melaju melewati jalan makadam terjal dan tanjakan ekstrem, kami pun mengubah mode econ karena standar dan sport tidak berfungsi disini.

Kekuatiran kami dihapus begitu saja, CUV e: ini bisa tiba sampai tujuan diatas Bukit Senja Café dengan selamat tanpa tragedi mogok dan kehabisan baterai.

Test Ride Honda CUV e ke Puncak, Ajaib Baterai 0 % Masih Bisa Nanjak !
Test ride CUV e: ke Puncak, motor listrik sanggup kok. Coba aja sendiri.

Rasa penasaran baterai 0 % masih menghinggapi kami, maka kami melakukan charge kembali di Bukit Senja Café selama 2 jam untuk membuktikan waktu pulang apakah seperti itu kembali.

Ternyata terbukti benar, Waktu turunan menuju Bogor baterai kembali 0 % mampu melewati kemacetan malam minggu puncak, lanjut Summarecon dan sampai kota Bogor.

Setelah diambil kesimpulan dalam test ride CUV e: Puncak ini masih layak untuk dipakai turing jauh tapi dengan catatan. Permasalah waktu charge baterai yang durasi lama tapi bisa diakali teknik switch, apakah kapok naik motor listrik macam CUV e: ke Puncak. Tentu tidak ! malah penasaran pengen lagi tapi memakai kunci pop scan barcode swap baterainya, next trip tentunya.

Overall CUV e: stabil mulai dari sok dan rem, Sok lembut dan cakram sudah combi brake plus ABS, empuk. Handling pas riding kokoh ini berkat rangka tubular frame tipe underbone bukan e-SAF (enhanced Smart Architecture Frame) dijamin aman.

Kebetulan unit yang kami pinjam varian RoadSync Duo harga Rp 59,65 juta, kemarin promo pas PRJ mendekati 19 juta saja. Kami sudah coba GPS maps dalam RoadSync Duo dan akurat, sayang belum coba aplikasi RoadSync Duo di Google Play Store. Tapi next turing pasti coba.fey