4 Mitos Ban Salah Yang Sering Dipercaya Pemudik

JADWALBALAP.COM, JAKARTA – Menjelang musim mudik, perhatian pengendara biasanya tertuju pada kondisi mesin kendaraan. Padahal, ada satu komponen yang justru paling menentukan keselamatan perjalanan jarak jauh: ban. Sebagai satu-satunya bagian kendaraan yang bersentuhan langsung dengan permukaan jalan, ban memegang peran vital dalam menjaga stabilitas, traksi, hingga kemampuan pengereman.
Sayangnya, masih banyak pengendara yang mempercayai berbagai mitos terkait perawatan ban. Alih-alih meningkatkan keamanan, beberapa anggapan yang beredar justru dapat membahayakan perjalanan, terutama ketika kendaraan membawa beban penuh dalam perjalanan ratusan kilometer.
Menurut Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno, pemudik perlu memberikan perhatian yang sama besar pada kondisi ban seperti halnya pada mesin kendaraan. Ban yang tidak dirawat dengan benar dapat meningkatkan risiko kerusakan struktural hingga pecah ban saat melaju di kecepatan tinggi.
Berikut beberapa mitos yang masih sering dipercaya pengendara dan perlu diluruskan.
1.Menurunkan tekanan angin saat hujan membuat ban lebih mencengkeram jalan
Anggapan ini cukup populer di kalangan pengendara. Banyak yang percaya bahwa tekanan angin yang lebih rendah akan memperbesar bidang kontak ban dengan aspal sehingga meningkatkan grip saat hujan.
Faktanya, menurunkan tekanan angin justru dapat memperburuk kondisi ban. Tekanan yang terlalu rendah membuat dinding ban bekerja lebih keras, meningkatkan panas berlebih, dan berpotensi merusak struktur ban. Selain itu, tekanan yang tidak sesuai juga bisa mengurangi stabilitas kendaraan dan meningkatkan risiko kehilangan traksi.
2.Beban kendaraan tidak terlalu memengaruhi kondisi ban
Saat mudik, kendaraan biasanya diisi penuh penumpang dan barang bawaan. Namun sebagian pengendara masih menganggap bahwa selama ban terlihat baik-baik saja, kendaraan tetap aman digunakan.
Padahal setiap ban memiliki batas kemampuan menahan beban yang dikenal sebagai load index. Jika beban kendaraan melebihi kapasitas tersebut, ban akan bekerja lebih berat, menghasilkan panas berlebih, dan meningkatkan risiko kerusakan hingga pecah ban.
3.Ban baru tidak perlu diperiksa lagi
Sebagian pengendara merasa tenang setelah mengganti ban dengan yang baru. Namun ban baru bukan berarti bebas dari pemeriksaan. Tekanan angin tetap harus disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan kendaraan. Selain itu, proses balancing dan pengecekan kesesuaian pola telapak ban dengan kondisi jalan juga penting untuk menjaga kestabilan kendaraan selama perjalanan jauh.
4.Ban tubeless yang bocor bisa dipasang ban dalam
Solusi ini kerap dipilih ketika ban tubeless mengalami kebocoran. Namun sebenarnya cara tersebut tidak dianjurkan karena menghilangkan fungsi utama teknologi tubeless yang dirancang untuk menahan kebocoran secara lebih aman. Penggunaan ban dalam pada ban tubeless justru berpotensi menimbulkan panas berlebih dan mempercepat kerusakan ban.
Kesadaran untuk memahami fakta seputar ban menjadi semakin penting saat mobilitas meningkat pada musim mudik. Pemeriksaan tekanan angin, kondisi telapak, serta kesiapan ban cadangan sebaiknya menjadi rutinitas sebelum memulai perjalanan jauh.
Dengan pemahaman yang benar, pengendara tidak hanya meningkatkan kenyamanan perjalanan, tetapi juga meminimalkan risiko kecelakaan di jalan. Sebab dalam perjalanan panjang menuju kampung halaman, keselamatan tetap menjadi tujuan utama sebelum sampai di garis akhir.fey

