2 Rider Ini Jadi Pertama Riding Ke Tibet Pakai Motor Plat Indonesia Asli

JADWALBALAP.COM, TIBET – Dua rider Indonesia, Rial Hamzah dan Adet Vriono, berhasil mencatatkan sejarah baru dalam dunia touring dan overland nasional dengan menjadi rider Indonesia pertama yang memasuki dan menjelajahi Tibet menggunakan sepeda motor berpelat Indonesia.
Pencapaian bersejarah tersebut diraih melalui ekspedisi internasional bertajuk “Ride To The Roof Of The World” yang membawa keduanya melintasi ribuan kilometer perjalanan dari Asia Tenggara menuju Dataran Tinggi Tibet, salah satu kawasan paling tinggi, terpencil, dan menantang di dunia.
Keberhasilan memasuki Tibet menggunakan kendaraan asing bukanlah perkara sederhana. Wilayah Otonomi Tibet memiliki regulasi yang sangat ketat terhadap kendaraan luar negeri. Proses perizinan memerlukan persiapan berbulan-bulan, koordinasi dengan berbagai instansi, penggunaan guide resmi, serta pengawalan sesuai aturan pemerintah setempat.
Setelah berhasil memasuki Tibet, Rial dan Adet melanjutkan perjalanan hingga mencapai Lhasa, ibu kota Tibet, sebelum akhirnya menembus kawasan Everest Base Camp North Face dan Mount Qomolangma (Everest) dari sisi utara Tibet, China.
Perjalanan menuju Everest ditempuh melalui Gyawula Pass pada ketinggian sekitar 5.200 meter di atas permukaan laut. Dari titik tersebut, keduanya dapat menyaksikan panorama Pegunungan Himalaya secara utuh dengan Gunung Everest yang menjulang setinggi 8.848,86 meter.
Namun pencapaian ekspedisi ini tidak berhenti di Everest Base Camp. Rial dan Adet terus menjelajahi jantung Dataran Tinggi Tibet melalui jalur legendaris Route 318 dan Route 317, rute overland yang dikenal sebagai salah satu yang paling spektakuler sekaligus paling menantang di dunia.
Selama lebih dari satu minggu, mereka berkendara di ketinggian antara 4.500 hingga lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut, melintasi wilayah Shigatse, Nagqu, Baqing, Sog, Dengqen, Chamdo hingga Sichuan. Kondisi udara tipis, suhu di bawah titik beku, serta kadar oksigen yang jauh lebih rendah menjadi tantangan harian yang harus dihadapi.
Menurut Rial Hamzah, tantangan berkendara di Tibet memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kawasan pegunungan lain di dunia.
“Di Eropa kita bisa menemukan salju yang indah, tetapi umumnya berada pada elevasi yang lebih rendah. Di Tibet kami menghadapi kombinasi salju, suhu beku, udara tipis, dan ketinggian ekstrem di atas 5.000 meter. Tantangannya benar-benar berbeda dan membutuhkan adaptasi fisik yang serius,” ujarnya.
Salah satu momen paling berkesan dalam ekspedisi ini adalah ketika tim berhasil mencapai Yuexionggou High Mountain Periglacial Wetland Park di Baqing County, Tibet.
Berdasarkan informasi dari guide resmi yang mendampingi perjalanan, sangat mungkin Rial Hamzah dan Adet Vriono menjadi rider Indonesia pertama yang mencapai kawasan tersebut menggunakan sepeda motor berpelat Indonesia.
Ekspedisi ini juga menjadi simbol kolaborasi positif antar-rider Asia Tenggara. Untuk memasuki China dan Tibet, tim Indonesia bergabung dengan 11 rider Malaysia dalam satu rombongan ekspedisi internasional.
Menurut Adet Vriono, tantangan terbesar selama perjalanan bukan hanya kondisi jalan maupun cuaca ekstrem, tetapi menjaga kondisi fisik dan mental saat berada berminggu-minggu di lingkungan berkadar oksigen rendah.
“Perjalanan ini mengajarkan bahwa konsistensi, kesabaran, dan kerja sama tim jauh lebih penting daripada kecepatan,” kata Adet.
Sebagai Pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bidang Touring dan Komunitas, Rial Hamzah berharap pencapaian ini dapat membuka jalan bagi semakin banyak rider Indonesia untuk melakukan ekspedisi lintas negara secara profesional dan bertanggung jawab.
Keberhasilan ekspedisi ini mendapat dukungan penuh dari Ikatan Motor Indonesia (IMI) melalui fasilitas CPD Carnet yang memungkinkan kendaraan Indonesia melakukan perjalanan lintas negara secara legal.
Ride To The Roof Of The World bukan sekadar perjalanan menuju Everest. Ekspedisi ini menjadi tonggak sejarah baru bagi dunia touring Indonesia, membuktikan bahwa rider Indonesia mampu menembus salah satu wilayah paling sulit diakses di dunia dengan menggunakan sepeda motor berpelat Indonesia dan membawa nama bangsa di panggung petualangan internasional.fey

