Jajal Kawasaki Meguro S1 Menembus Badai Hujan Jati Luhur

JADWALBALAP.COM, BANDUNG – Hujan deras menerpa kami sepanjang Purwakarta menuju Bandung via Tangkuban Parahu, Lembang, selepas Bendungan Jatiluhur. Kawasaki Meguro S1 yang kami naiki seperti merasakan kegembiraan, tapi kami kedinginan.
Momen itu (21/10) kami sedang berkesempatan menjajal Kawasaki Meguro S1 untuk turing Jakarta–Bandung guna mengetes ketangguhan. Awal kami ambil di kantor Kawasaki area Danau Sunter, kilometer sudah menunjukkan 3.200 km, jadi Meguro kesekian setelah kami.
Motor retro klasik 233 cc ini tidak dilengkapi kick starter sehingga semua tergantung pada double starter. Ada indikator kesehatan aki jika bermasalah. Saat dinyalakan pertama kali, bunyi mesin agak terasa kasar. Apakah ini ciri khas motor yang pernah muncul di film Godzilla Minus One ini?
Seperti kerenggangan klep noken, mungkin asumsi kami ini sudah dipakai lama atau dibuat sengaja untuk setelan jarak jauh.
Ada yang unik dari Meguro ini, tidak ada indikator penunjuk bensin dan hanya ada lampu penanda jika habis. Perkiraan kami, lampu menyala menandakan ada reserve 1–2 liter di tangki 12 liternya.
Oke, kami coba mengisi Rp50 ribu Pertamax yang berarti harga 1 liter Pertamax Rp12.200, sama dengan 4 liter. Maka gas dari Pasar Minggu untuk start ke Cibubur terus Jonggol. Kami sengaja memakai rute alternatif dan tidak memakai rute Puncak seperti biasanya.
Meguro dengan 6 percepatan terasa smooth jika dilihat bodinya yang besar, 143 kg. Handling-nya stabil dan jok tidak terlalu tinggi, cocok untuk pria Indonesia yang rata-rata 165 sampai 170 cm. Tinggi kami 172 cm dengan kaki menapak aspal.

Menjelang masuk Bendungan Jatiluhur, kami menghadapi jalan setengah makadam dan Meguro bisa melahapnya dengan sempurna. Sok teleskopik bisa meredam bantingan aspal yang tidak merata. Pelek ring 17 belakang dan depan ring 18 berbalut IRC terasa empuk.
Kami istirahat pertama di Jatiluhur untuk melepas penat dan belum ada kendala yang berarti. Tantangan sesungguhnya datang selepas Jatiluhur ke Purwakarta, rintik hujan turun dan tempias itu mengaburkan kaca helm.
Memasuki kota Purwakarta, indikator lampu bensin mulai menyala dan ada peringatan fuel, maka kami berhenti ke pom bensin untuk mengisi. Kali ini kami isi Rp20 ribu saja untuk mengetes sejauh mana bisa sampai Bandung, tepatnya Dago.
Hujan tak berhenti dan semakin deras. Kami harus berhati-hati karena jalur yang kami pilih mulai banyak tanjakan dan turunan. Di sini Meguro mulai menunjukkan kebolehannya. Permainan kopling dan perpindahan gigi yang halus memudahkan untuk melahap tanjakan dengan ringan tanpa ngos-ngosan biarpun hujan deras.
Kami tak khawatir tanjakan tak mampu dinaiki. Meguro memang enak diajak trek miring karena tidak ada efek ngempos. Tanjakan dan turunan tetap safety, apalagi dikawal double cakram ABS. Jalan licin akibat hujan tercengkeram erat oleh kompon ban IRC-nya.
Ada kejadian unik saat melibas tanjakan dan turunan arah Lembang. Jika naik, lampu indikator menyala, dan saat turun mati otomatis. Seperti sensor di tangki 12 liter itu menyesuaikan naik-turun. Kami agak khawatir karena masih 1,2 jam lagi sampai Dago.
Tapi gas saja untuk mengetahui seberapa reserve bensin itu menyimpan, jadi kami tidak memutuskan mengisi bensin.
Hujan masih mengguyur deras tanpa henti, tangan kami sudah kedinginan, tapi Meguro tetap adem. Memang kami tidak sempat ambil top speed, kecepatan normal 60–80 km/jam saja.

Kekhawatiran kami akan suara berisik mesinnya terbantahkan. Saat kami bentot throttle, suara swing merdu dari kombinasi mesin dan knalpot. Ini memang setelan boros yang diberlakukan untuk Meguro guna mengejar tarikan bawahnya yang lebih mumpuni.
Setelah menghadapi hujan deras, turunan, dan tanjakan licin, akhirnya kami sampai di Dago, tempat kami menginap. Hati kami tenang dan puas, tiba dengan selamat tanpa satu pun kendala. Dan Meguro memang juara.
Bahan bakar yang kami habiskan Rp70 ribu Pertamax jika dikalkulasi 5,7 liter, belum ditambah reserve bensin bawaan, kami anggap 7 liter. Kami ambil kesimpulan 1:24 untuk konsumsi Meguro dalam menempuh 170 km dari Jakarta ke Bandung. Mungkin sekilas dianggap boros, tapi itu mungkin setelan mesin Meguro yang dibuat seperti itu.
Secara keseluruhan, Meguro ini cocok dibuat turing jarak jauh dengan tangki 12 liter. Anda pencinta retro wajib koleksi. Biarpun desain klasik, mesinnya sudah modern memakai sistem injeksi bahan bakar (fuel injection system), bukan karburator lagi dan pengapian DC bukan AC. Jadi pasti lebih terintegrasi secara digital.
Dalam kondisi hujan dan dingin, motor ini sangat responsif. Double starter mudah dinyalakan biarpun tidak dilengkapi kick starter. Kami sudah buktikan ketangguhan Meguro, ini akan jadi special item yang layak dimiliki.fey

